Rabu, 14 November 2012

Apresiasi Pertama untuk Penulis


Apresiasi Pertama untuk Penulis
Medan, 13 November 2012, Di penghujung senja
          
  Agenda ku hari ini adalah agenda yang telah ku tunggu lama, bazar buku. Bagi semua pecinta baca-tulis, bazar buku adalah surga, siapa pun pasti menantinya. Hingga semalam aku terus berdoa agar hari ini cepat-cepat tiba. Dan tibalah hari ini.
           
    Dengan  rencana yang tlah dibuat sedemikian rupa, kami dari trio mmmm, bukan charlie’s angel, sudah janji utk ketemu langsung di TKP pukul 11.00. But like usual, pasti pada molor, termasuk aku. Sebenarnya sih, sudah perhitungan waktu, begitu film korea yang ku tonton habis (hehehe) aku langsung cabut, tapi malas begitu menggelayut manja. Padahal aku sudah pakaian rapi, perlengkapan dan amunisi (lho?!) sudah siap sedia. Molor sekitar 10 menit dari jadwal keberangkatan dan langsung saja aku mematung di samping adikku agar segera di angkut ke simpang jalan, hehehe. Maklum la, rumah di daerah kota, tapi letaknya agak menjorok ke dalam. Perlu waktu 5-7 menit utk jalan ke simpang dengan gaya jalan abang-abang dan tentu tenaga ekstra karna ransel penuh baju dagangan (soalnya ada agenda jumpa pelanggan hari itu juga, :D).
         
   Singkat cerita aku telah berada di angkot, pak supir benar-benar kejar setoran, belum lagi bunyi klaksonnya yang panjang-panjang karna jalan padat merayap. Aku rasanya mual. Ada demo di depan kantor walikota, jadilah jalan padat dan dialihkan ke jalur lain. Untung si supir agak perhatian (ciyeee), ‘mau kemana dek?’ Tanya bang supir. “Ke hotel madani, eh mesjid raya bang.” (heleh, sama saja, sebrang-sebrangan kok). Dengan tangkas si supir mencari jalan pintas, meski agak memutar tapi lebih cepat la.
            And then, tiba juga di bazar buku. Berhasil, berhasil, berhasil, hore! *Dewi the Explorer. Celingak-celinguk aku memperhatikan bazar tersebut. Lumayan juga, dinaungi tenda-tenda besar dengan jajaran stand di sekililingnya. Ada juga panggung di bagian depan.  Aku mulai menyisir berbagai stand. Membacai semua judul yang tertera pada bagian atas stand, seperti orang kurang kerjaan, tapi gak juga. Dirumah aku sudah niat untuk membeli sebuah buku, bermaksud mencari stand penerbitnya, jadi lebih cepat, gak mondar-mandir. Namun yang dicari tak kelihatan. Selain penerbitan ada juga stand toko buku, cendramata, agency buku, sekolah hingga produk fashion, beragam lah.
            Menunggu 2 personil charlie’s angel lainnya, aku curi start hunting buku. Di mulai dari depan,  proses memilih, memilah dan mempertimbangkan dimulai. Pertama ketemu dengan buku yang sedang dilombakan resensi, wiiih senang banget, tapi agak kecewa dengan diskonnya yang cuma 20 %. Langsung ku menghubungi salah satu charlie’s angel, menanyakan kapan deadline lombanya. Dan Alhamdulillah akhirnya, aku membeli buku itu. Berpikir kalau pun tak sempat diresensi utk lomba, bisa untuk dikirim ke media. Setelah tawar menawar dengan bang stand, maksudnya yang jaga stand buku itu, sekarang ia SAH menjadi milikku. *lebaydotkom. (eh bukunya, bukan abang standnya ya, hehehe).
Berhubung si abang stand juga ramah, aku menanyainya tentang buku yang ku incar, tapi belum rezeki, gak ada ternyata.
            Tak berapa lama datang juga 1 personil lagi, jadi la kami berdua mengunjungi satu per satu stand. Bagian depan, stand terlihat normal, yah biasa-biasa saja. Sesekali didatangi oleh pengunjung. Masuk ke bagian tengah, sampailah pada bazar yang sesungguhnya, mungkin itulah yang mampir dibenak setiap pengunjung disana, begitu juga aku. Diawal, iya! Ada buku dari 5ribu sampai 25 ribu yang disusun sesuai dengan harga. Ku perhatikan setiap rak, dari yang paling murah hingga yang paling tinggi harganya. Gak tanggung-tanggung, buku yang di label 25rb itu, adalah novel yang ku jamin harganya bisa 2 – 3 kali lipat dari harga bazarnya. Miris kali ah.  Tapi tunggu ada yang lebih parah lagi, ini saat ketiga charlie’s angel sudah berkumpul. Mereka memanggilku dan menunjukkan sebuah buku, dan aku hampir gak percaya ngeliatnya. Buku itu ditulis oleh orang yang ku kenal, temanku sendiri  dan berada di rak buku dengan harga yang sangat tidak rasional. Beneran, kedok sudah terbuka. Mana ada orang yang mau jual dan dapat rugi. Tapi ini?? Yah, apalagi kalau bukan pembajakan. Bener-bener gak bisa di beri ampun. Tapi apa daya, gak mungkin kan ku obrak-abrik raknya, hehehe.  Bukan itu saja, aku juga melihat beberapa buku penulis yang juga dikenal, dan bukan 1 tapi beberapa judul bukunya ada disana. Oh ya, soal buku temanku tadi, hanya ku Tanya saja, “Sudah ke bazaar?”, ia jawab “Sudah”. Sampe disitu aja, rada gak tega kalo ditanya lebih lanjut, “udah liat bukunya yang …..?” 

   Membeli buku itu memang bagus, tapi perlu hati-hati juga. Pertama, ya jika buku tidak original pasti kualitas tidak sama dengan yang ori. Tulisan yang kabur, trus halamannya ada yang kosong, dan segala macamnya, namanya juga duplikat. Hal yang paling penting adalah, tentu akan merusak pasar buku aslinya. Meski memang jadi banyak orang yang bisa menikmati karyanya dan penulis jadi lebih populer, tapi tentu ia tidak mendapatkan jerih payah dari karyanya. Karena royalty diberikan dari penjualan buku asli , bukan buku bajakan. Lihat juga potongan harga yang diberikan, masih normal jika 20-30 %, tapi jika harga sudah di patok rata dengan nominal yang terjangkau, hati-hati lah membeli. Kalau diperhatikan lebih jeli, hanya beberapa toko/penerbit besar yang bisa memberikan diskon besar-besaran. Trus yang lain? wallahu a’alam. Lebih teliti aja. Membaca tidak hanya untuk mendapatkan ilmu, tapi juga bentuk apresiasi pada sebuah karya, so, choose the original, paling tidak menjadi apresiasi awal kita kepada sang penulis. Bagi yang baru beli buku, selamat membaca ya. Dan semoga menjadi hikmah untuk kita semua. See you.
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar